Demokrasi dari sudut pandang lain

oleh : | pada : | 0 Komentar

Bahasan ini hanyalah merupakan opini dari seorang yang awam politik, awan kenegaraan, awam kepemerintahan, awam pengetahuan dan juga awam segalanya. Karena itu mungkin inti sari dari tulisan ini janganlah dijadikan sebagai bahan referensi ilmiah, kalaupun itu terpaksa terjadi, tetap saja bukan merupakan saran dari sang penulis.


Tulisan ini sangat miskin referensi, dan kebanyakan hanyal opini versi awam, namun tidak ada salahnya bila kita ambil kesimpulan akhirnya.

Penulis bukan tergolong pribadi yang anti demokrasi, terus terang saja masih tergolong pengikut aliran demokrasi, dalam beberapa pengambilan keputusan juga masih sering menggunakan cara demokrasi. Hanya saja mungkin bukan merupakan seseorang yang menganut “apa yang kita ingini berarti itu yang paling benar”. Dan sangat meyakini bahwa “yang terbanyak itu belum tentu yang terbaik”.

Pembaca yang budiman, setidaknya untuk beberapa dekade terakhir ini, kita, utamanya bangsa indonesia telah ikut terjerumus dalam keyakinan bahwa yang namanya “DEMOKRASI”, merupakan sesuatu hal yang paling baik. Bahkan pada awal-awal era reformasi, sebelum dan sesudah tahun 2000 masehi an, kebanyakan kita pernah merasa sangat bangga disebut oleh pihak amerika sebagai negara paling demokratis SEDUNIA!. Lebih parah lagi kebanyakan dari kita telah terjun ke lembah yang menganggap DEMOKRASI laksana TUHAN.



Diantara kita juga sepertinya masih banyak yang kurang memahami apa itu demokrasi yang sesungguhnya, yang penting memilih dan yang penting pilihan kita jadi, itulah demokrasi (pandangan dan keadaan sebagian dari kita). Padahal (menurut beberapa buku yang pernah guruKATRO baca) ketika guruKATRO masih sekolah dulu, kalau tidak salah definisinya sebagai berikut :

1. Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. 
2. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.
3. Pernah juga penulis membaca penjelasan bila Demokrasi itu adalah pemerintahan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.

Tapi anggaplah tiga penjelasan diatas itu tidak terlalu penting disini (hanya disini), bila ingin mendalami pengertian itu lebih jauh, pembaca bisa menelusuri literatur lain yang memiliki keakuratan lebih komprehensif. Sebab yang akan diangkat disini hanyalah proses dan akibatnya saja, dan itupun hanya dari salah satu sudut pandang yang berbeda saja.

Yang pernah penulis baca, proses perjalanan demokrasi adalah sbb :

  • Yang  pertama adalah mufakat.
  • Bila dengan mufakat tidak bisa menghasilkan putusan yang final, barulah kemudian diatasi dengan voting.
  • Sedang yang terjadi selama ini kita langsung mengambil langkah kedua tanpa menghiraukan langkah mufakat dulu.


Untuk penjelasan yang berjumlah tiga itu, kita juga sebenarnya masih bisa mengabaikannya. Karena pada kenyataannya, bangsa Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas dan kompleks ini akan menemui kesulitan bila harus mengambil langkah mufakat, bila hal ini diangkat, para pakar demokrasi pasti akan langsung dengan mudah menjawab menggunakan pernyataan “TIDAK MUNGKIN DILAKSANAKAN MUFAKAT, MAKANYA LANGSUNG SAJA DENGAN VOTING”.

  • Demokrasi, dalam bentuk dan jenis seperti apapun, setidaknya yang akhir akhir ini tengah berlaku diatas dunia fana ini, adalah menganut siapa yang paling mendapat opini (suara) terbanyak, itulah yang akan berkuasa. 
  • Ini memiliki makna bahwa Demokrasi akan menciptakan keadaan yang berkuasa adalah kelompok terbanyak.
  • Kelompok terbanyak bisa jadi terbentuk dari kelompok yang baik, tapi bisa juga terbuat dari kelompok yang kurang baik, bahkan bisa saja terdiri atas kelompok yang sama sekali tidak baik.


Kesimpulan akhir, terutama dari penjelasan nomor 3 itu, sudah jelas bahwa Demokrasi akan memperoleh hasil seperti berikut :

  1. Bila dalam suatu wilayah mayoritasnya adalah orang baik, maka akan tercipta pemimpin terbaik (ini akan sangat bagus) hasilnya.
  2. Sebaliknya bila mayoritas yang tinggal disana adalah orang yang kurang/tidak baik, pasti akan mencipta pemimpin yang kurang baik pula (ini yang kemudian bisa dianggap sebagai kekhawatiran efek demokrasi). Pemimping yang kurang/tidak baik pasti akan menimbulkan keadaan yang merugikan beberapa pihak tertentu. Dan akhirnya makna demokrasi itu ternyata tercoreng oleh hasil demokrasi itu sendiri.


Dengan opini pada point 2 itu, kita masih boleh menganut sistem demokrasi, namun syarat jangan sampai kita terjerumus menganggap bahwa demokrasi adalah hal yang terbaik, hal yang paling benar apalagi mendewakan demokrasi, hingga hasil keputusan demokrasi laksana keputusan TUHAN. Hasil demokrasi akan sangat tergantung dari keadaan komunitas yang mendukung di sekelilingnya. Bahasa kasarnya, bila demokrasi berada diantara kaum inetelektual akan mencipta kepemimpinan yang intelek, bila demokrasi dikelilingi komunitas yang bijaksana pasti akan menghasilkan pemimpin yang bijaksana. 


Komentar Facebook

Belum ada komentar

Posting Komentar