13 March 2016

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

Assalaamu alaikum pengunjung guruKATRO,

Munculnya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilatarbelakangi oleh banyaknya penelitian pendidikan yang dilakukan oleh para peneliti yang tidak berhubungan langsung dengan subyek penelitian. Hasilnya berdampak pada kebijakan yang kebanyakan berlaku umum, namun acapkali tidak secara langsung sesuai dengan kebutuhan pada setiap interaksi belajar mengajar yang sifatnya khas dan lokal. Disamping itu hasil penelitian yang dilakukan peneliti pada umumnya tidak langsung diterapkan di lapangan.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalahmasalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran. Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kaloboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kaloboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.



1. Pengertian Penelitian Tindakan (PTK)

PTK didefinisikan sebagai bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakantindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik-praktik pembelajaran tersebut dilakukan (Hopkins, 1993: 44).

Sedangkan John Elliot dalam bukunya Action Reasearch forEducational Change mengartikan Penelitian tindakan kelas sebagaikajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkankualitas tindakan didalamnya. Prosesnya meliputi telaah, diagnosis,perencanaan, pemantauan, dan evaluasi sertapengembangan professional (John Elliot, 1991: 1).

Dari beberapa kutipan diatas dapat diketahui, bahwa PTK merupakan: 
  1. penelitian yang reflektif yang berkonteks kelas dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran;
  2. penelitian dilakukan secara kolaboratif dalam situasi pembelajaran;
  3. bertujuan untuk memperbaiki kinerja dan peningkatan kualitas pembelajaran.



2. Makna ”Kelas” dalam PTK

Pengertian kelas dalam PTK adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar. Siswa yang belajar itu tidak hanya terbatas di dalam sebuah ruangan tertutup saja, tetapi dapat juga ketika anak sedang melakukan karyawisata, di laboratorium, di rumah atau di tempat lain, ketika siswa sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.



3. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

PTK terutama ditujukan untuk perbaikan proses belajar mengajar. Penelitian ini dilakukan oleh guru dan diaplikasikan langsung di dalam kelas. Selanjutnya penelitian ini dapat memecahkan masalah dalam proses dan hasil belajar, sehingga merupakan solusi langsung atau cepat /segera atas pemasalahan proses belajar mengajar (Kemmis dan Taggart, 1990).

Priyono (1999:3-6) memberikan enam karaktristik penelitian tindakan kelas sebagai berikut:
  • On the job problem oriented (masalah yang diteliti adalah masalah yang riil yang muncul dari dunia kerja peneliti/ yang ada dalam kewenangan/tanggung jawab peneliti).
  • Problem solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah yang terdapat dalam kelas).
  • Improvement Oriented (berorientasi pada peningkatan kualitas). ActionResearch menegaskan pentingnya masing-masing komponen dari suatu sistem organisasi sekolah tu berkembang (berubah lebih baik).
  • Multiple data collection (berbagai cara koleksi data dipergunakan). Untuk memenuhi prinsip critical approaches (kebenaran itu subyektif/problematik) berbagai cara pengumpulan data umumnya digunakan seperti:(a) observasi, (b) tes, (c) wawancara, (d) questionaires dan sebagainya.
  • Cyclic (siklis) konsep tindakan (action) pada dasarnya diterapkan melalui urutan-urutan planning, observing, action dan reflecting secara siklus.
  • Participatory (collaborative). Peneliti bekerjasama dengan orang lain (ahli/pengawas/guru) melakukan setiap langkah penelitian action research, seperti: planning, observing, thinking action dan reflecting. Ciri ini dipengaruhi oleh prinsip cricalisme, yaitu kebenaran/realita itu problematik sehingga pendekatan terhadap masalah harus participatory untuk meningkatkan pengamatan. Kolaborasi (kerja sama) antara guru dengan exspert dimulai ketika kegiatan mengidentifikasi masalah, merencanakan tindakan, dan analisis. Sedangkan dalam pelaksanaan tindakan dan pengamatan, kolaborasi bisa dilakukan dengan selain exspert.




4. Perbedaan PTK dengan Penelitian lain

Penelitian deskriptif untuk mengumpulkan informasi atau data tentang fenomena yang diteliti, misalnya kondisi sesuatu atau kejadian, disertai dengan informasi tentang faktor penyebab sehingga mungkin muncul kejadian yang dideskripsikan secara rinci, urut, dan jujur.

Penelitian eksperimen untuk mengumpulkan informasi atau data tentang akibat dari adanya suatu treatment atau perlakuan. Penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetes suatu hipotesis yang dilandasi dengan asumsi yang kuat akan adanya hubungan sebab akibat antara dua variable. Setelah diketahui misalnya model pembelajaran mana yang lebih baik memberikan hasil, peneliti diharapkan mempunyai niat untuk melanjutkan hasil tersebut dengan penelitian lebih intensif dalam bentuk penelitian tindakan

Penelitian tindakan dapat dipandang sebagai tindak lanjut dari penelitian deskriptif meupun eksperimen. Perbedaan yang nyata adalah bahwa penelitian tindakan tidak mengenal populasi dan sampel karena hasil penelitian tindakan hanya berlaku bagi kasus yang diteliti (Suharsimi Arikunto, Prof, 2006,26-27)



5. Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Berdasarkan uraian mengenai pengertian dan karakteristik PTK, tentunya kita dapat mulai mengidentifikasi prinsip-prinsip PTK. Menurut Hopkins (1993) ada 6 prinsip penelitian tindakan kelas, yaitu:
  • PTK tidak mengganggu kegiatan guru mengajar di kelas. Pekerjaan utama seorang guru adalah mengajar, sehingga dalam melakukan penelitian tindakan kelas seyogyanya tidak berpengaruh pada komitmennya sebagai pengajar.
  • Metode pengumpulan data yang dipergunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga tidak berpeluang mengganggu proses pembelajaran.
  • Metode yang digunakan harus bersifat andal (reliable), sehingga guru dapat mengidentifikasikan serta merumuskan hipotesis dengan penuh keyakinan.
  • Peneliti adalah guru dan untuk kepentingan guru yang bersangkutan.
  • Konsisten dengan prosedur dan etika. Dalam penyelenggaraan penelitian tindakan kelas, guru harus bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya.
  • Menggunakan wawasan yang lebih luas dari pada perspektif kelas, melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan.



6. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

a. Tujuan PTK
Pendapat dari Mc Niff (1992) menegaskan bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk perbaikan; yang harus dimaknai dalam konteks proses belajar khususnya, implementasi program sekolah umumnya.

b. Manfaat PTK
Dengan tertumbuhkannya budaya meneliti yang merupakan dampak dari pelaksanaan tindakan secara berkesinambungan, maka manfaat yang dapat diperoleh secara keseluruhan yaitu; (1) inovasi pembelajaran dan (2) peningkatan profesionalisme guru.



7. Kelebihan dan Kekurangan PTK

Kelebihan PTK, sebagaimana dinyatakan Shumsky adalah: (1) tumbuhnya rasa memiliki melalui kerja sama dalam PTK; (2) tumbuhnya kreativitias dan pemikiran kritis lewat interaksi terbuka yang bersifat reflektif/evaluatif dalam PTK; (3) dalam kerja sama ada saling merangsang untuk berubah; dan (4) meningkatnya kesepakatan lewat kerja sama demokratis dan dialogis dalam PTK (lihat Muhammad Zuhdi, dkk, 2011).

PTK juga memiliki kelemahan: (1) kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian pada guru itu sendiri karena terlalu banyak berurusan dengan hal-hal praktis, (2) rendahnya efisiensi waktu karena guru harus punya komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya sementara
guru masih harus melakukan tugas rutin; (3) konsepsi proses kelompok yang menuntut pemimpin kelompok yang demokratis dengan kepekaan tinggi terhadap kebutuhan dan keinginan anggota-anggota kelompoknya dalam situasi tertentu, padahal tidak mudah untuk mendapatkan pemimimpin demikian.



8. Sasaran atau Objek Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Obyek dari penelitian tindakan kelas merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas, bukan obyek yang sedang diam dan tanpa gerak. Obyek tersebut adalah sebagai berikut:

a. Unsur Siswa.
Dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas/ lapangan/ laboratorium atau bengkel, maupun ketika sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumah dengan serius, atau ketika mereka sedang mengikuti kegiatan ektra kurikuler sekolah. Contoh judul atau permasalahan tentang siswa yang dapat diangkat dan dijadikan judul penelitian tindakan antara lain: perilaku kedisiplinan, semangat siswa ketika mengikuti kegiatan
ekstra kurikuler, keseriusan siswa untuk mengerjakan tugas, ketelitian siswa dalam mengelola sarana belajarnya, kebiasaan siswa dalam mengajukan pertanyaan di kelas, ketepatan siswa untuk hadir di sekolah, dan sebagainya.

b. Unsur Guru. 
Dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang mengajar di kelas, sedang membimbing siswa yang sedang berdarmawisata, atau guru ketika sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa. Contoh judul atau permasalahan yang berkenaan dengan guru yang dapat diangkat menjadi judul penelitian tindakan adalah hal-hal yang terkait dengan guru, khususnya dalam melaksanakan pembelajaran, antara lain: mengajar dengan metode yang bervariasi, menerapkan metode diskusi terarah, mengajar dengan mengelompokkan siswa dan sebagainya.

c. Unsur Materi Pelajaran
Dapat dicermati dari materi yang tertulis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan terutama ketika materi tersebut disajikan kepada siswa, meliputi pengorganisasian, urutannya, dan cara penyajiannya. Contoh permasalahan yang dapat diangkat sebagai judul dalam penelitian tindakan antara lain: menambah sumber bahan untuk meningkatkan penguasaan pokok-pokok bahasan yang dilakukan oleh guru sendiri atau ditugaskan kepada siswa, dan sebagainya. Mencoba memberikan materi misalnya untuk Muatan Lokal, dapat juga dimasukkan dalam kategori judul penelitian tindakan. Materi lain dalam kegiatan ekstra kurikuler atau dalam pelajaran tambahan di sore hari, di hari libur, atau sebagai materi pengayaan bagi siswa yang sudah dapat menyelesaikan materi pokok lebih cepat dibandingkan siswa lain.

d. Unsur Peralatan atau Sarana Pendidikan
Dapat dicermati ketika guru sedang mengajar, dengan tujuan meningkatkan mutu hasil belajar, yang
dapat diamati guru, siswa, atau keduanya. Contoh judul yang berkenaan dengan peralatan atau sarana pendidikan antara lain: penyediaan dan pengaturan peralatan, baik yang dimiliki oleh siswa secara perseorangan, peralatan yang disediakan oleh sekolah, ataupun peralatan yang disediakan dan digunakan di kelas. Sebagai contoh, penerbitan sarana yang dimiliki oleh siswa, penghematan dalam menggunakan sarana, perpustakaan, laboratorium, workshop, dan sebagainya.

e. Unsur Hasil Pembelajaran.
Dapat ditinjau dari tiga ranah yang dijadikan titik tujuan yang harus dicapai melalui pembelajaran, baik susunan maupun tingkat pencapaian. Oleh karena hasil belajar merupakan produk yang harus ditingkakan, hal ini pasti terkait dengan tindakan unsur lain, yaitu proses pembelajaran, peralatan atau sarana pendidikan, guru, atau siswa sendiri.

f. Unsur Lingkungan Belajar.
Dapat dilihat baik lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang melingkupi siswa di rumahnya. Dalam penelitian tindakan, bentuk perlakuan atau tindakan yang dilakukan adalah mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih kondusif. Contoh judul yang berkenaan dengan lingkungan belajar yang dapat diangkat menjadi permasalahan penelitian tindakan antara lain: mengubah situasi ruang kelas, penataran sekolah, penataran lingkungan yang terkait dengan 6K, yang sebaiknya dilakukan dengan melibatkan siswa.

g. Unsur Pengelolaan Pembelajaran.
Merupakan kegiatan yang sedang diterapkan dan dapat diatur atau direkayasa dalam bentuk tindakan. Contoh judul yang digolongkan sebagai kegiatan pengelolaan misalnya cara mengelompokkan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan urutan jadwal, pengaturan tempat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan milik siswa, dan sebagainya.



9. Kolaborasi

Kolaborasi erupakan hal penting dalam PTK Sebagai penelitian yang bersifat kolaboratif, kedudukan antara peneliti dan guru mempunyai peran yang saling membutuhkan dan saling melengkapi untuk mencapai tujuan. Peran kerja sama sangat menentukan keberhasilan PTK terutama pada kegiatan mendiagnosis masalah, menyusun usulan, melaksanakan tindakan, observasi, merekam data, evaluasi, refleksi, menyeminarkan hasil, dan menyusun laporan akhir.



10. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Secara garis besar prosedur penelitian tindakan mencakup empat daur: perencaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Menurut Raka Joni, dkk. (1998), ada lima tahapan pelaksanaan PTK yang merupakan titik-titik estafet yang terdapat dalam suatu siklus. Tahap-tahap tersebut meliputi: (1) penetapan fokus masalah penelitian, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) pengamatan dan interpretasi, (5) analisis dan refleksi. Secara lebih rinci prosedur berdaur pelaksanaan PTK dapat digambarkan sebagai berikut.



Gambar Daur Pelaksanaan PTK

Pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus yang pertama, apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, guru (bersama peneliti) menentukan rancangan untuk siklus yang kedua. Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya, tetapi pada umumnya mempunyai berbagai hambatan perbaikan dari tindakan terdahulu yang tentu saja ditujukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus yang pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan guru belum merasa puas, dapat melanjutkan dengan siklus ketiga, yang cara dan tahapannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa siklus harus dilakukan. Banyaknya siklus tergantung dari kepuasan peneliti sendiri, namun ada saran, sebaiknya tidak kurang dari dua siklus.

a. Penetapan Fokus Masalah

Untuk memulai penelitian tindakan kelas, Anda perlu menentukan suatu topik.
Topik tersebut dapat berasal dari keadaan setiap unsure yang mempengaruhi proses belajar mengajar yang terjadi di dalam kelas. Misalnya,

  1. para siswa di kelas bahasa arab mengalami kesulitan mempraktekkan dialog di depan kelas,
  2. dalam pelajaran mengarang (ta’bir), tidak banyak siswa yang mau menuliskan kembali karangannya, meskipun saya sudah menggunakan strategi/caranya,
  3. dari jawaban soal balaghoh (sastra) tes yang saya buat, para siswa lebih banyak menggunakan kalimat ketika saya mengajar, tidak ada tanda-tanda membaca buku yang saya sarankan.

Agar masalah yang umum bisa menjadi fokus, Anda perlu menyusun kembali agar lebih kongkrit, lebih mudah diperbaiki. Secara khusus masalah tersebut dapat dibuat sebagai berikut:

  1. Perubahan apakah yang dapat dilakukan terhadap pokok bahasan berbicara agar para siswa memiliki ketrampilan awal yang diperlukan untuk melakukan dialog (hiwar) di depan kelas?
  2. Apakah ada teknik mengajar lain yang lebih dapat mendorong para siswa mau menuliskan kembali karangannya
  3. Bagaimana mengubah soal-soal ujian balaghah (sastra) sehingga siswa mau membaca buku lain.

Berdasarkan rumusan masalah yang masih umum tersebut, kemudian Anda tentukan dan rumuskan, sehingga memunculkan masalah yang lebih fokus.


b. Perencanaan (Planning) Tindakan:

Pada tahap perencanaan peneliti menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Secara rinci pada tahapan perencanaan terdiri dari kegiatan
sebagai berikut:

1) Identifikasi Masalah, 
Identifikasi Masalah merupakan tahap pertama dalam serangkaian penelitian. Dimulai dari diagnosis situasi, apa yang sedang terjadi sekarang, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Masalah tersebut harus benar-benar faktual terjadi di kelas, penting dan bermanfaat untuk peningkatan mutu hasil belajar, dan masalah tersebut masih dalam jangkauan kemampuan peneliti. Oleh sebab itu identifikasi masalah merupakan tahap penting dalam pelaksanaan riset. Identifikasi penyebab masalah, kemungkinankemungkinan penyebab munculnya masalah dapat dijabarkan melalui brainstorming, analisis penyebab munculnya masalah dapat dijelaskan dengan mudah. Dengan memahami berbagai kemungkinan penyebab masalah tersebut, misalnya: (a) mengembangkan instrumen angket (b) mewawancarai siswa dan (c) melakukan observasi langsung di kelas. Berikut contoh ringkasan permasalahan PTK yang mempunyai rumusan masalah: Apakah metode value clarification mampu meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran X?

PTK ini dilakukan antara seorang peneliti yang berkolaborasi dengan guru mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan melakukan diskusi berdasarkan pada keadaan yang senyatanya di kelas, peneliti dan guru dapat merancang PTK dengan kegiatan utama sebagai berikut:

  • Merancang bagian isi mata pelajaran dan bahan belajarnya yang disesuaikan dengan konsep konstruktivistik, dalam hal ini isi mata pelajaran disusun dengan berbasis konstekstual yang mengacu pada: (a) belajar berbasis masalah, (b) pangajaran autentik, (c) belajar berbasis inkuiri, (d) belajar berbasis kerja, (e) belajar berbasis proyek atau penugasan, dan (f) belajar kooperatif.
  • Merancang strategi dan skenario penerapan pembelajaran yang menggunakan prinsip pembelajaran konstruktivistik, seperti mengaktifkan proses bertanya, penemuan, pemodelan, dan lain-lain yang dibuat dengan rinci.
  • Menetapkan indikator ketercapaian dan menyusun instrumen pengumpul data.

2) Menetapkan cara yang akan dilakukan untuk menemukan jawaban, yang berupa rumusan hipotesis tindakan.
Hipotesis tindakan merupakan tindakan yang diduga akan dapat memecahkan masalah yang ingin diatasi dengan penyelenggaraan penelitian tindakan kelas. Untuk menyusun hipotesis tindakan dengan tepat, guru dapat melakukan: (1) kajian teoritik di bidang pembelajaran; (2) kajian hasil penelitian yang relevan; (3)diskusi dengan rekan sejawat, pakar pendidikan, peneliti lain, dan sebagainya; (4) kajian pendapat dan saran pakar khususnya yang dituangkan dalam bentuk program; dan (5) merefleksikan pengalaman sendiri sebagai guru.

Dari hasil kajian tersebut, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan adalah: (1) rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian; (2) setiap alternatif tindakan perbaikan perlu dikaji ulang dan dievaluasi dari segi relevansinya dengan tujuan, kelaikan teknis secara keterlaksanaannya; (3) pilih alternatif tindakan serta prosedur implementasi yang paling memberi peluang untuk mewujudkan hasil yang optimal.


c. Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Pelaksanaan Tindakan dilaksanakan untuk memperbaiki masalah. Langkahlangkah praktis tindakan diuraikan. Apa yang pertama kali dilakukan? Bagaimana organisasi kelas? Siapa yang perlu menjadi kolaborator saya? Siapa yang mengambil data? Pada saat pelakanaan ini, guru benar-benar harus terlebih dahulu memahami masing-masing siswa jangan sampai ada yang menjadi obyek tindakan. Membagi kelas menjadi kelompok kontrol dan treatment harus dihindarkan.

Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas diawali dengan kesadaran adanya masalah yang dirasakan menganggu proses pembelajaran. Bertolak dari kesadaran adanya permasalahan, guru baik sendiri maupun dalam kolaborasi dengan teman sejawat yang menjadi mitranya kemudian menetapkan fokus permasalahan secara lebih tajam dengan data lapangan ataupun kajian pustaka yang relevan.

Langkah-langkah persiapan dilakukan dengan memperhatikan hal berikut :

  1. membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dan bentuk-bentuk kegiatan siswa;
  2. mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan;
  3. mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan; dan
  4. melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan tindakan.


Berikut contoh ringkasan rencana (skenario) tindakan yang akan dilakukan pada PTK.

  1. Dirancang penerapan metode tugas dan diskusi dalam pembelajaran X untuk pokok bahasan: A, B, C, dan D.
  2. Format tugas: pembagian kelompok kecil sesuai jumlah pokok bahasan, dipilih ketua, sekretaris, dan lain-lain oleh dan dari anggota kelompok, bagi topik bahasan untuk kelompok dengan cara random dan dilakukan dengan cara menyenangkan.
  3. Kegiatan kelompok: mengumpulkan bacaan, melalui diskusi anggota kelompok belajar memahami materi, dan menuliskan hasil diskusi dalam OHT untuk persiapan presentasi.
  4. Presentasi dan diskusi pleno: masing-masing kelompok menyajikan hasil kerjanya dalam pleno kelas, guru bertindak sebagai moderator, kemudian lakukan diskusi dan ambil kesimpulan sebagai hasil pembelajaran.
  5. Jenis data yang dikumpumkan: makalah kelompok, lembar OHT hasil kerja kelompok, siswa yang aktif dalam diskusi, dan lain-lain.

Skenario tindakan yang akan dilakukan, hendaknya dijabarkan serinci mungkin secara tertulis. Rincian tindakan itu menjelaskan:
(a) langkah demi langkah kegiatan yang akan dilakukan,
(b) kegiatan yang seharusnyadilakukan guru,
(c) kegiatan yang diharapkan dilakukan oleh siswa,
(d) rinciantentang jenis media pembelajaran yang akan digunakan dan cara menggunakannya,
(e) jenis instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data/ pengamatan disertai dengan penjelasan rinci bagaimana menggunaknnya. Rincian rancangan mengenai rencana tindakan dan bagaimana pelaksanaannya harus dituliskan pada laporan PTK.


d. Pengamatan/observasi (Observing)

Observing adalah kegiatan pengamatan untuk memotret sejauh mana efektivitas kepemimpinan atas tindakan telah mencapai sasaran. Efektivitas kepemimpinan atasan dari suatu intervensi terus dimonitor secara reflektif. Selain itu peneliti menguraikan jenis-jenis data yang dikumpulkan, cara pengumpulan data dan alat koleksi data (angket/wawancara/observasi dan lain-lain).

Observasi kelas akan memberi manfaat apabila pelaksanaannya diikuti balikan (review discussion). Diskusi bahkan akan bermanfaat jika:
1) Diberikan tidak lebih dari 24 jam setelah observasi
2) Dilakukan dalam suasana yang mutually supportive dan non-threatening
3) Bertolak dari rekaman data
4) Diinterpretasikan secara bersama-sama
5) Pembahasannya mengacu pada penetapan sasaran serta pengembangan strategi perbaikan untuk menentukan rencana berikutnya.


e. Analisis dan Refleksi (Reflecting)

Reflecting adalah kegiatan mengulas secara kritis tentang perubahan yang terjadi yaitu siswa, suasana kelas dan guru. Refleksi dimaksudkan sebagai pantulan dari hasil analisis terhadap peneliti berdasarkan kepada kriteria yang telah ditetapkan. Apabila hasil analisis menunjukkan belum tercapainya kriteria yang ditetapkan maka disusun rencana tindakan siklus berikutnya. Guru sebagai peneliti menjawab pertanyaan mengapa (why), bagaimana (how) dan sejauhmana (to what extenct) intervensi telah menghasilkan perubahan secara signifikan. Kolaborasi dengan rekan-rekan akan memainkan peran sentral peneliti untuk mengetahui sejauhmana action membawa perubahan, kekurangan dan kelebihan langkah-langkah. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti bersama-sama guru dapat melakukan revisi perbaikan terhadap rencana awal. Sistem berdaur ini dilakukan secara berulang-ulang (siklus) sampai masalah teratasi.



11. Penyusunan Proposal dan Pelaporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

a. Sistematika Proposal Penelitian Tindakan Kelas, sebagaimana berikut:

  • Judul Penelitian.
Judul dinyatakan dengan kalimat sederhana, namun harus jelas maksud tindakan yang dilakukan dan dimana penelitian akandilaksanakan, jika diperlukan cantumkan penanda waktu semester/tahun ajaran.

Contoh judul:

  1. Peningkatan Ketrampilan Berbicara Bahasa Arab dengan penggunaan metode demonstrasi dan drill pada kelas II MAN 1 Semarang tahun 2013.
  2. Audio Visual sebagai media meningkatkan konsentrasi belajar bahasa Arab siswa kelas I MAN Kendal tahun 2013.
  3. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe jigsaw dalam meningkatkan pemhaman siswa tentang pembelajaran SKI Kelas VIII-2 MTsN 1 Kudus tahun 2013.


  • Latarbelakang Masalah. 
Menguraikan alasan-alasan objektif yang dijadikan dasar oleh peneliti PTK.. Dengan kata lain latar belakang penelitian menggambarkan kesenjangan antara realitas di kelas dengan harapan ideal.

  • Perumusan Masalah.
Adalah pertanyaan-pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui PTK.

  • Tujuan dan Manfaat.
Tujuan penelitian menjelaskan sasaran atau hasil yang ingin dicapai setelah penelitian selesai. Perlu juga dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang diperoleh, khususnya bagi siswa, guru pelaksana PTK, dan stakeholder lainnya.

  • Kajian Pustaka (Teori) dan Hipotesis Tindakan. 
Pada bagian ini diuraikan landasan teori yang relevan, yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Kajian teori berisikan ulasan-ulasan teoritik dengan konsep pembelajaran dan konteks PTK yang akan dilaksanakan. Untuk keperluan ini, dalam bagian ini diuraikan juga kajian terhadap penelitian yang relevan dari hasil-hasil PTK yang terdahulu. Argumentasi logik dan teoritik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, maka hipotesis tindakan dapat dirumuskan. Hipotesis tindakan berisi pernyataan secara jelas tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi akar masalah yang didukung oleh kerangka teoritik.

  • Metode Penelitian. Tahapan-tahapan cara dalam melaksanakan PTK.


  1. Subjek Penelitian. Subyek tindakan disebutkan dengan jelas, tidak terlalu luas dan dapat dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat, menyangkut komponen-komponen pembelajaran atau sekolah.
  2. Setting/lokasi/tempat penelitian. Disebutkan kelas dan sekolah siswa yang dilibatkan. Untuk penelitian tindakan-tindakan di kelas, disebutkan lokasinya misalnya sekolah, sarana perpustakaan dan lain-lain.
  3. Rencana Tindakan. Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, seperti:


  • Perencanan. Persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti pembuatan skenario pembelajaran, dan lain-lain yang trekait dengan pelaksanakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya.
  • Implementasi Tindakan. Deskripsi tindakan yang akan digelar, skenario kerja, tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.
  • Observasi. Uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.
  • Analisis dan refleksi. Uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personil yang akan dilibatkan, serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.


b. Rincian dari setiap Laporan Penelitian Tindakan Kelas sebagai berikut:


  • Abstrak. Pada bagian ini dituliskan dengan ringkas hal-hal pokok tentang
(a) permasalahan khususnya rumusan masalah,
(b) tujuan,
(c) prosedur pelaksanaan PTK, dan
(d) hasil penelitian.

Ditulis dalam satu halaman, satu spasi, maksimal tiga alinea atau hal ini tergantung pada sumber data atau ketentuan dari lembaga pemesan.

  • Pendahuluan.
Memuat unsur latar belakang masalah, data awal tentang permasalahan pentingnya masalah dipecahkan, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta definisi istilah, bila dianggap perlu.

  • Kajian Teori dan Hipotesis Tindakan. 

Menguraikan teori terkait dan temuan penelitian yang relevan yang memberi arah kepelaksanaan PTK dan usaha peneliti membangun argumen teoritik bahwa dengan tindakan tertentu dimungkinkan dapat meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran, bukan untuk membuktikan teori. Dalam uraian bab ini diakhiri dengan pertanyaan penelitian dan hipotesis tindakan.

  • Pelaksanaan Penelitian. 

Mengandung unsur: deskripsi lokasi, waktu, mata pelajaran, karakteristik siswa di sekolah sebagai subyek penelitian. Kejelasan tiap siklus: rancangan, pelaksanakaan, cara pemantauan, beserta jenis instrumen, usaha validasi hipotesis dengan cara refleksi.

Tindakan yang dilakukan bersifat rasional dan feasible serta collaborative. Berikan gambaran kondisi lapangan saat tindakan dilakukan, secara kuantitatif maupun kualitatif tentang semua aspek yang dapat direkam pada waktu penelitian.

  • Hasil penelitian dan Pembahasan.

Menyajikan uraian masing-masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan, pelaksanaan
pengamatan, dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan. Baik data pra PTK , data setelah siklus I maupun data-data siklus berikutnya. Sajian data dalam bab ini mendeskripsikan secara jelas perubahan/perbaikan yang diperoleh dari hasil kegiatan observasi, yang dapat dibuat dalam bentuk grafik/tabel dengan berikan berbagai penjelasan dan analisis data.

  • Simpulan dan Saran.

Kemukakan simpulan yang diperoleh dari hasil analisis pada bab sebelumnya, dengan memperhatikan perumusan masalah dan tujuan penelitiannya. Utarakan keterbatasan penelitiannya, kemudian sampaikan saran. Ada dua macam saran:
(a) saran untuk penelitian lanjut, dan
(b) saran untuk penerapan hasil penelitian.


12. Laporan Penelitian Tindakan Kelas

Laporan PTK ditulis setelah penelitian selesai dilaksanakan dengan menggunakan format tertentu sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh pihak sponsor. Adapun Isi dan Sistematika Laporan Penelitian Tindakan Kelas meliputi:
(a) Halaman Judul Penelitian, Halaman Pengesahan, Abstrak, Kata Pengantar, Daftar Isi, Daftar Tabel,
(b) Bab I : Pendahuluan (latarbelakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat),
(c) Bab II: Kajian Teori dan Hipotesis Tindakan,
(d) Bab III: Metodologi Penelitian,
(e) Bab IV: Hasil dan Pembahasan, dan
(f) Bab V: Penutup.




=============================================
FORMAT LAPORAN PTK
BAGIAN AWAL

  • Halaman Judul
  • Abstrak
  • Prakata
  • Daftar Isi

BAGIAN UTAMA
 - Bab I: PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Penegasan Istilah
  3. Perumusan Masalah
  4. Tujuan Penelitian
  5. Manfaat Penelitian

 - Bab II: KERANGKA TEORITIK DAN HEPOTESIS TINDAKAN

  1. ..................................................
  2. ..................................................
  3. Dst.

 - Bab III: METODE PENELITIAN

  1. Setting Penelitian dan Subyek Penelitian
  2. Rancangan Penelitian
  3. Perencanaan dan Pelaksanaan Tindakan
  4. Prosedur Observasi
  5. Prosedur Refleksi dan Analisis Data

 - Bab IV HASIL PENELITIAN

  1. Paparan Data
  2. Uji Hipotesa
  3. Pembahasan

 - Bab V PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran/Rekomendasi

BAGIAN AKHIR
    - Daftar Pustaka
    - Lampiran-lampiran

Demikian Posting tentang guruKATRO yang dapat kami sajikan, mohon maaf bila masih banyak kekurangannya, kritik dan saran serta pertanyaan dapat disampaikan melalui kolom komentar.

Terima kasih

sudah ada 2 Komentar

Populer

youTUBE guruKATRO

Google+