Mengamati Prinsip Kerja Tone Control Aktif | guruKATRO

10/13/2018

Mengamati Prinsip Kerja Tone Control Aktif

Assalaamu alaikum sahabat guruKATRO,

Sebagaimana telah kita maklum bersama, bahwasanya apabila dipandang dari sudut sistem kerjanya, disana akan kita temukan dua jenis Tone Control, yaitu Tone Control dengan sistem kerja Pasif dan Tone Control dengan sistem kerja Aktif.

Untuk para pemula yang masih memiliki rasa penasaran, guruKATRO sedikit jelaskan tentang perbedaan yang sangat mendasar dari kedua tipe Tone Control tersebut, yakni :
  • Tone Control Pasif bisa bekerja tanpa memerlukan Tegangan Positif, dengan demikian kita bisa mengoperasikan Tone Control tersebut, mengatur seberapa tinggi nada bass dan/atau treble yang kita inginkan tanpa harus memasukkan tegangan listrik kedalam rangkaian tone control tersebut. Sedangkan,
  • Tone Control Aktif baru bisa bekerja bila sudah diberi asupan Tegangan Positif, dengan demikian kita baru bisa mengoperasikan Tone Control setelah kita memberi tegangan listrik kedalam rangkaian tone control tersebut, tanpa tegangan listrik tipe aktif tidak bisa untuk mengatur nada bass dan treble.

Pada Kesempatan posting kali ini guruKATRO sedang berhasrat untuk membahas tentang prinsip kerja Tone Control tipe Aktif.

Baca juga :
BELAJAR MEMBACA WARNA RESISTOR

Mari kita mulai mengamati dasar dasar dan prinsip kerja Tone Control Aktif dengan mengamati image berikut ini :



Pada gambar itu terbaca ada 4 bagian penting, yaitu :

  1. Audio Source (sumber suara),
  2. Potensio untuk mengatur aliran audio akan dilewatkemanakan,
  3. Transistor penguat audio, dan
  4. Power Amplifier yang akan mengeraskan Audio lemah menjadi keras dan di salurkan ke Speaker.
Pada gambar diatas pula kita bisa ketahui bahwasanya disana ada garis aliran audio, yaitu :
  • Garis biru pertama melambangkan aliran audio keluar dari source,
  • Garis merah menyalurkan audio dari source menuju amplifier bila potensio meter di putar kekiri. Terlihat disana bila audio dari source akan langsung masuk ke amplifier tanpa diperkuat dulu dengan transistor penguat audio.
  • Garis hijau menyalurkan audio dari source menuju amplifier, itu bisa terjadi apabila potensio meter diputar ke kanan. Pada garis hijau terlihat bahwa sebelum masuk ke amplifier audio dikuatkan dulu menggunakan transistor penguat audio, disana di contoh kan menggunakan transistor tipe C458. Karena audio sudah melalui transistor penguat, maka volume menjadi lebih keras dibanding saat keluar dari source.
  • Garis biru kedua melambangkan aliran audio masuk ke amplifier.

Dengan sistem kerja seperti diatas, terlihat bahwa bila potensio di putar ke kiri menuju ke posisi 0% sekalipun, maka audio masih tetap bisa mengalir walaupun dengan kualitas yang sangat minim, atau dengan bahasa lain audio akan mengalir daro source menuju amplifier secara langsung tanpa ada potensio dan transistor penguat.

Gambar diatas, masih menunjukkan kontrol hanya audio secara general saja, belum mengatur nada bass ataupun treble. Untuk lebih mendalam lagi kita mengamati kinerja Tone Control, mari kita lihat image berikut ini :

1. Contoh aliran kontrol nada BASS



Audio yang datang dari source menuju kaki tengah potensio meter disaring menggunakan resistor 10K, (10K bukan ukuran mutlak, bisa diganti dengan ukuran sedikit dibawah atau diatasnya)

Dari kaki 1 dan kaki 3 potensio biasanya menggunakan resistor dengan ukuran yang sama, pada gambar diatas guruKATRO menggunakan ukuran 4K7, sepertinya 4K7 adalah ukuran terkecil disini, anda bisa mengganti dengan 5K6 atau 6K8 atau 8K2, sesuai selera.

Cara seperti diatas itu (penyaringan dengan resistor) sudah bisa menghilangkan nada tinggi, namun masih kurang efektif dalam menganulir nada middle. Untuk mencegah agar nada menengah tidak ikutan terbawa, biasanya orang memasang kapasitor dari kaki 1 potensio menuju kaki 3 potensio, seperti ini :



Ukuran kapasitor yang pernah guruKATRO lihat pada beberapa produk adalah antara 333 hingga 563.

2. Contoh Kontrol nada Treble 


Dari source menuju kaki tengah potensio dipasang resistor ukuran 1K, bila terasa nada treble kurang, ukuran itu bisa diperkecil atau bahkan bisa langsung dengan kawat. Bila dirasa treble over, bisa diperbesar dengan ukuran 1K5 atau 2K2 dll.

Dari kaki 1 dan 3 potensio dipasang disaring menggunakan 2 kapasitor dengan ukuran yang sama, padfa contoh guruKATRO menggunakan ukuran 222, bila ingin lebih kerasa bisa gunakan ukuran 272 atau 332 atau 392 atau 472.

Seperti itu biasanya sistem kerja Tone control aktif (hanya mengandung kontrol bass dan treble saja), namun bagi yang ingin menambahkan kontrol nada middle, bisa juga dipasang disana, misalnya seperti in :

3. Contoh kontrol nada middle


dari source menuju kaki 2 potensio dipasang resistor ukuran 10K atau sedikit dibawah/atasnya, sementara keluaran dari potensio masing masing desaring menggunakan kapasitor ukuran 103.

Kadang guruKATRO membuat dengan cara sebaliknya, seperti ini :



4. Bila ketiga kontrol nada itu digabung dalam satu paket, mungkin akan terbentuk model Tone Control seperti ini :





Masuk ke kaki basis transistor dan juga keluar dari kolektor transistor tidak bisa langsung seperti itu, tapi kudu di saring dengan menggunakan elko, ukuran antara 0,47µF hingga 10µF

Transistor juga harus diberi tegangan terlebih dahulu, sedang pada gambar diatas kaki kaki transistor belum di beri tegangan.



guruKATRO tahu
Iklan sedikit mengganggu LOADING
Tapi pembaca juga PERLU TAHU
Biaya operasional blog datangnya dari tampilan iklan
bagi pembaca yg ingin blog ini tetap ada
bisa membantu dg cara non aktifkan Adblock
agar iklan tampil di halaman ini
Terima kasih atas dukungannya
dan insya Allah
Allah SWT selalu memberi keberkahan
Demikian Posting tentang Mengamati Prinsip Kerja Tone Control Aktif yang dapat guruKATRO sajikan, mohon maaf bila masih banyak kekurangannya, kritik dan saran serta pertanyaan dapat disampaikan melalui kolom komentar.

Terima kasih

No comments